Feb 10, 2023 | Artikel
Cabai merah (Capsicum annuum) termasuk famili Solanaceae dan merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki banyak manfaat, bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai prospek pasar yang menarik. Buah cabai selain dapat dikonsumsi segar untuk campuran bumbu masak juga dapat diawetkan misalnya dalam bentuk acar, saus, tepung cabai dan buah kering.
Cabai merah cocok dibudidayakan, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan dengan ketinggian 0–1000m dpl. Tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah yang berstruktur remah ataugembur, subur, kaya akan bahan organik, pH tanah antara6-7.Kandungan air tanah juga perlu diperhatikan.Hal tersebut berhubungan dengan tempat tumbuh tanaman cabai (sawah atau tegalan).Tanaman cabai yang dibudidayakan disawah sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan, sedangkan di tegalan ditanam padamusim hujan. Dengan pemilihan musim tanam yang tepat, diharapkan pada saat pertumbuhan tanaman, kandungan air sawah tidak berlebihan dan ditanah tegalan masih cukup air untuk pertumbuhan cabai.
1. Varietas yang Dianjurkan
Varietas yang dapat digunakan untuk budidaya cabai merah antaralain adalah Lembang–1, Tanjung–2, Hot Chilli, Hot Beauty dan lain sebagainya. Kebutuhan benih sebesar 250-350 g/ha.
2. Persemaian
Sebelum disemai, benih direndam dahulu dalam air hangat (50°C)atau larutan Previcur N (1 cc/l) selama satu jam. Benih disebar secara merata pada bedengan persemaian dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang/kompos (1:1), kemudian ditutup dengan daunpisang selama 2-3 hari. Bedengan persemaian diberi naungan/atap dari screen/kasa/plastik transparan kemudian persemaian ditutup dengan screen untuk menghindari serangan OPT. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dipindahkan ke dalam bumbunan daun pisang/pot plastik dengan media yang sama (tanah dan pupuk kandang steril). Penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit siap ditanam dilapangan setelah berumur 4-5 minggu.
3. Pengolahan Lahan
- Lahan kering/tegalan
Lahan dicangkul sedalam 30-40 cm sampai gembur kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar1-1,2 m,tinggi 30 cm, dan jarak antar bedengan 30 cm.Lubang tanam dibuat dengan jarak tanam (50-60 cm) x (40-50 cm) atau 50 cm x 70 cm, sehingga dalam tiap bedengan terdapat 2 baris tanaman.
- Lahan sawah
Tanah dicangkul sampai gembur kemudian dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,5 m dan antara bedengan dibuat parit sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.Dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 50 cm x 40cm. Bila pH tanah kurang dari 5,5 dilakukan pengapuran menggunakan Kaptan/Dolomit dengan dosis 1,5 ton/ha pada 3-4 minggu sebelum tanam(bersamaan dengan pengolahan tanah dengan cara disebar dipermukaan tanah dan diaduk rata).
4. Pemupukan
- Untuk penanaman cabai secara monokultur dilahan kering
Pupuk dasar yang diberikan berupa pupuk kandang kuda atau sapi sebanyak 20–40 ton/ha dan pupuk buatan TSP 200–225kg/ha diberikan sebelum tanam. Pupuk susulan berupa Urea 100–150 kg/ha, ZA 300–400 kg/ha,dan KCl 150–200 kg/ha diberikan 3 kali pada umur 3, 6 dan 9 minggu setelah tanam.
- Untuk penanaman cabai secara tumpang gilir dengan bawang merah
Bawang merah: pupuk kandang kuda atau sapi 10–20 ton/ha danTSP 150–200 kg/ha diberikan 7 hari sebelum tanam, kemudian Urea 150–200 kg/ha, ZK 400–500 kg/ha dan KCl 150–200 kg/ha diberikan pada umur 7 dan 25 hari setelah tanam masing-masing ½ dosis.
Cabai merah: pupuk kandang kuda atau sapi 10–15 ton/ha dan TSP100–150 kg/ha diberikan seminggu setelah tanam. Urea 100–150kg/ha, ZA 300 – 400 kg/ha dan KCl 100 – 150 kg/ha diberikan pada umur 4,7dan10 minggu setelah tanam.
- Untuk penanaman cabai secara tumpangsari dengan kubis atau tomat
Pupuk kandang kuda atau sapi 30 – 40 ton/ha dan NPK 15:15:15 sebanyak 700 kg/ha diberikan seminggu sebelum tanam dengan cara disebar dan diaduk secara rata dengan tanah. Pupuk susulan diberikan dalam bentuk pupuk NPK 15:15:15 yang dicairkan (1,5-2 g/l air), dengan volume semprot 4000 l larutan/ha. Pupuk tersebut diberikan mulai umur 6 minggu sebelum tanam dan diulang tiap10-15 hari sekali.
5. Penggunaan Mulsa
Mulsa digunakan untuk menjaga kelembaban, kestabilan mikroba tanah, mengurangi pencucian unsur hara oleh hujan dan mengurangi serangan hama. Mulsa dapat berupa jerami setebal 5 cm (10 ton/ha) pada musim kemarau, yang diberikan dua minggu setelah tanam atau berupa mulsa plastik hitam perak untuk musim kemarau dan musim hujan.
6. Pemeliharaan
Penyulaman dilakukan paling lambat 1–2 minggu setelah tanam untuk mengganti bibit yang mati atau sakit. Pengairan diberikan dengan cara dileb (digenangi) atau dengan disiram perlubang. Penggemburan tanah atau pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua atau pemupukan susulan. Pemberian ajir dilakukan untuk menopang berdirinya tanaman. Tunas air yang tumbuh di bawah cabang utama sebaiknya dipangkas.
7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
OPT penting yang menyerang tanaman cabai antara lain kutu kebul,thrips,kutu daun,ulat grayak,ulat buah tomat,lalat buah,antraknose,penyakit layu, virus kuning, dsb. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:
- Penggunaan border 4–6 baris jagung
- Penggunaan musuh alami (predator:Menochilussex maculatus)
- Penggunaan perangkap (kuning, methyleugenol)
- Penggunaan pestisida nabati
- Penggunaan pestisida kimia sesuai kebutuhan dengan dosis yang sesuai petunjuk. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis,volume semprot,cara aplikasi,interval maupun waktu aplikasinya
8. Panen dan Pasca Panen
Cabai merah dapat di panen pertama kali pada umur 70–75 harisetelah tanam di dataran rendah dan pada umur 4–5 bulan di dataran tinggi, dengan interval panen 3–7 hari. Buah rusak yang disebabkan oleh lalat buah atau antraknos sebaiknya langsung dimusnahkan. Buah yang akan dijual segar sebaiknya dipanen matang. Buah yang dikirim untuk jarak jauh dipanen matang hijau. Buah yang akan dikeringkan dipanen setelah matang penuh.
Sortasi dilakukan untuk memisahkan buah cabai merah yang sehat, bentuk normal dan baik dengan buah yang kualitasnya tidak baik. Pengemasan cabai untuk transportasi jarak jauh sebaiknya mengggunakan kemasan yang diberi lubang angin yang cukup atau menggunakan karung jala. Apabila hendak disimpan sebaiknya disimpan ditempat penyimpanan yang kering,sejuk dan cukup sirkulasi udara.
Feb 10, 2023 | Artikel
Tanaman karet merupakan salah satu komoditas perkebunan penting yang memiliki prospek yang cerah untuk di budidayakan. Tanaman karet menghasilkan lateks sebagai bahan baku pembuatan produk sintesis seperti alat-alat kendaraan, alat kesehatan, perkakas dll. Upaya peningkatan produktivitas tanaman karet terus dilakukan. Agar mampu tumbuh dengan baik dan menghasilkan banyak lateks maka perlu memperhatikan syarat tumbuh, lingkungan dan teknik budidaya yang tepat. Namun dalam proses budidaya tanaman karet terkadang ditemui beberapa kendala seperti adanya serangan penyakit yang menyerang tanaman karet sehingga dapat mengganggu proses pertumbuhan karet dan menurunkan produktivitas karet dalam menghasilkan lateks, termasuk karet Lampung yang memiliki luas areal 199.625 ha dengan produktivitas 1.376 kg/ha, masih dibawah produktivitas rata-rata minimal 1500 kg/ha. Penyakit yang menyerang tanaman karet antara lain: jamur akar putih, kanker garis, gugur daun.
Penyakit Jamur Akar Putih
Penyebab: Jamur Rigidoporus lignosus atau R.icropus
Gejala Serangan:
- Mati mendadak seperti tersiram air panas pada musim hujan,
- Terbentuk buah lebih awal pada tanaman muda yang seharusnya belum cukup waktunya berbuah dan bertajuk tipis.
- Daun berwarna hijau gelap kusam dan keriput, permukaan daun menelungkup.
- Pada permukaan akar terdapat benang-benang berwarna putih kekuningan menempel pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas.
- Gejala lanjut akar membusuk, lunak dan berwarna coklat.
- Gejala lainnya badan buah berbentuk kipas tebal, agak berkayu, mempunyai zone-zone pertumbuhan, sering mempunyai struktur serat yang radier, mempunyai tepi yang tipis. Warna permukaan atas bakal buah dapat berubah tergantung dari umur dan kandungan airnya. Pada waktu masih muda berwarna jingga jernih sampai merah kecoklatan,dengan zone berwarna gelap yang agak menonjol
Penyakit Bidang Sadap Kanker Garis
Penyebab: Phytophthora palmivora
Gejala Serangan:
- Adanya selaput tipis berwarna putih kelabu dan tidak begitu jelas menutupi alur sadap, apabila dikerok diatas irisan sadap akan tampak garis-garis tegak, berwarna coklat atau hitam.
- Garis-garis ini berkembang dan berpadu satu sama lain membentuk jalur hitam yang terlihat seperti retak-retak membujur pada kulit pulihan.
- Terdapat benjolan-benjolan atau cekungan cekungan pada bekas bidang sadap lama sehingga sangat mempersulit penyadapan berikutnya.
- Gejala lanjut lateks yang keluar berwarna coklat dan berbau busuk.
Penyakit Batang; Nekrosisnkulit
Penyebab: Jamur Fusarium solani, berasosiasi dengan Botrydiplodia sp
Gejala serangan:
- Timbul bercak coklat kehitaman seperti memar pada permukaan kulit dan dapat timbul mulai dari kaki gajah sampai di percabangan.
- Bercak membesar, bergabung satu sama lain, basah dan akhirnya seluruh kulit batang dan cabang
- Penyakit berkembang pada lapisan kulit sebelah dalam dan merusak lapisan kambium bahkan sampai ke lapisan kayu.
- Serangan lanjut kulit pecah dan terjadi pendarahan karena pembuluh lateks Pecah
Penyakit Daun Colletotrichum
Penyakit daun Colletotrichum merupakan penyakit yang baru mendapat perhatian. Meskipun pada karet Colletotrichum terutama menyerang daun, jamur yang sama juga dapat menyerang semua bagian hijau dari tanaman karet, termasuk buah, dan juga menyebabkan mati ujung pada ranting-ranting yang. Serangan Colletotrichum yang berat pada daun-daun muda yang baru dibentuk setelah tanaman meranggas dapat menyebabkan gugurnya banyak daun muda, yang disebut gugur daun sekunder.
Penyakit Daun Phytophthora
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytopthora sp. membentuk zoosporangium yang mudah disebarkan angin, yang jika jatuh di tempat yang berair.kecambah yang mengadakan infeksi ke dalam jaringan yang rentan.
Gejala:
- Daun yang terinfeksi gugur, sementara anak-anak daun masih melekat pada tangkai.
- Pada tangkai daun terdapat satu bercak atau lebih yang berwarna coklat tua atau hitam dengan bintik putih di tengahnya, yang terdiri dari lateks yang membeku.
- Umumnya daun-daun yang gugur masih berwarna hijau dan tampak seperti daun sehat, meskipun kadang-kadang warnanya sudah berubah menjadi kuning atau merah.
Penyakit Gugur Daun
Penyebab: jamur Pestalotiopsis sp
Gejala:
- Adanya bintik cokelat pada daun muda yang berkembang menjadi bercak cokelat tua dan terdapat batas yang jelas antara bagian bercak daun yang masih sehat, daun gugur sebelum waktunya,
- Daun baru yang terbentuk lebih kecil dari ukuran daun normal,
- Sebagian ranting mati dan tajuk tanaman meranggas serta berkurang lebih dari 50%,
- Produksi getah menurun sampai 45%.
Source: Diseminasi Teknologi, Cybex Pertanian
Feb 2, 2023 | Artikel
Serangan hama tikus sekarang ini masih menjadi OPT utama dalam budidaya tanaman pangan disamping pengaruh perubahan iklim, telah berbagai cara dilakukan untuk menekan serangan tikus di lahan, diantaranya gropyokan, penggunaan umpan beracun, emposan, maupun penangkaran burung hantu dan belum memberikan hasil yang optimal untuk mengurangi serangan hama tikus di lahan milik para petani.
Terdapat inovasi terbaru yang ditemukan oleh Bapak Yoso Martono Suyadi atau Mbah Yoso dari Desa Tegalsari, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo dalam penanggulangan tikus yang terbuat dari bahan-bahan alami dan mudah didapatkan. Inovasi antisipasi pengendalian tikus ini disebut dengan Bioyoso, nama Bioyoso sendiri diambil dari nama Mbah Yoso. Ramuan Bioyoso ini sudah digunakan oleh Mbah Yoso dalam mengumpan Tikus di lahan miliknya dan lingkungan sekitarnya.
Ramuan Bioyoso ini merupakan pestisida berbahan alami guna mengendalikan hama tikus, caranya adalah ramuan Bioyoso dijadikan umpan sistemik agar dimakan tikus dan kemungkinan tikus akan mengalami kemandulan dan gigi rontok, lalu selanjutnya mati dalam kurun waktu 2 minggu.
Bahan Pembuatan Bioyoso;
- 1 kg kulit pohon kamboja
- 1 kg umbi gadung
- 1 kg bekatul
- 1 kg ikan segar
- 10 butir ragi tape
- ¼ kg beras
Alat Pembuatan Bioyoso;
- Tumbu
- Plastik
- Alas untuk menjemur
Cara Pembuatan Bioyoso;
- Rajang kasar kulit kamboja
- Potong kecil umbi gadung
- Masukkan semua bahan kedalam tumbu
- Tumbuk halus semua bahan
- Bulat-bulat menjadi kecil ramuan Bioyoso dengan plastik
- Jemur sampai kering
- Ramuan Bioyoso siap diaplikasikan menggunakan plastik
Pada 22 Juni 2022, Mbah Yoso mendapatkan piagam penghargaan dari menteri pertanian RI Syahrul Yasin Limpo, sebagai stakeholder berinovasi kementerian pertanian dalam kategori pembuat pestisida nabati pemandul dan perontok gigi tikus. Bioyoso merupakan inovasi yang ramah lingkungan dan mendukung Pemerintah Ngawi dalam Program Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.
Jan 31, 2023 | Berita
Dalam mendukung pelaksaan Penilaian Usaha Perkebunan untuk penilaian periode tahun 2023 yang akan dilaksanakan pada tanggal 7 s/d 8 Februari 2023 oleh tim dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi Bidang Perkebunan dan Hortikultura melakukan Koordinasi dengan PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XII Kebun Tretes dan PT. CANDI LOKA di Sine Kabupaten Ngawi (26/1/2023).
Pada kesempatan ini tim dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi juga dapat melihat proses pengolahan karet di PT.PERKEBUNAN NUSANTARA XII Kebun Tretes berlokasi di Sine Kabupaten Ngawi . Proses pengolahan getah karet mentah (latex) sebagai berikut :
1. Pengolahan Latex Pra-Koagulasi ada beberapa proses sebagai berikut :
a. Latex dari kebun dikumpulkan dalam drum saat diterima pabrik

b. Latex di cek dengan mengambil sampel setiap drumnya

c. Dibekukan di dalam Bak Penampungan

d. Selanjutnya di giling dengan alat Creeper

2. Proses pengasapan

3. Proses penyortiran
Dalam proses penyortiran karet yang sudah kering dipilih untuk dibersihkan dari kotoran, gelembung dan karet mentah.

4. Pengemasan
Kemudian dalam proses pengemasan dilakukan penimbang dan dilakukan pengepresan untuk dilakukan pembungkusan agar mudah untuk diberi peleteran guna mengetahui kualitas dan standart sesuai SNI.

Hasil olahan karet dari PT. Perkebunan Nusantara XII di ekspor ke luar negeri salah satunya di india. Selanjutnya tim Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Ngawi juga berkoordinasi dengan PT. Candi Loka yang merupakan perusahaan swasta nasional bergerak dibidang perkebunan yang memproduksi teh hijau di Sine Kabupaten Ngawi untuk ikut andil dalam Pelaksanan Penilaian Perkebunan Tahun 2023 yang dilaksanakan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur. Dalam kesempatan ini juga dapat melihat proses pengolahan Teh Hijau Tahapan pengolahannya terdiri atas pelayuan, penggulungan, pengeringan, sortasi dan grading serta pengemasan.
Jan 30, 2023 | Artikel
Tumbuhan liar yang sering kita jumpai ini kaya akan manfaat dalam bidang pertanian. Tanaman Putri Malu (Mimosa Pudica) tanaman asal Amerika Tropis dan tersebar di wilayah Asia. Tanaman ini merupakan tanaman perdu pendek suku polong – polongan, hidup di ketinggian hingga 1.200 meter diatas permukaan laut, Putri Malu memiliki kemampuan gerak seismonasti (tigmonasti), artinya daun tanaman akan menguncup ketika disentuh. Gerakan ini berfungsi untuk melindungi diri dari serangan hewan herbivora (pemakan tumbuhan) disekitarnya. Selain itu, ciri lain tanaman putri malu dikenal dari batangnya yang berwarna merah, dan jika sudah tua batangnya akan berubah warna menjadi warna hijau.
FAKTA MENARIK MENGENAI TANAMAN INI
Jika kita perhatikan tumbuhan putri malu terdapat beberapa fakta menarik. Pertama, putri malu sangat invasif terhadap tanaman lain dalam suatu ekosistem tempat hidupnya. Artinya, putri malu berkembang sangat cepat melebihi populasi tanaman lain.
Kedua, putri malu tahan terhadap cekaman abiotik. Hal ini bisa diperhatikan, bahwa tanaman ini lebih tahan terhadap kekurangan air, daunnya pun selalu nampak hijau saat kemarau panjang. Fakta tersebut dapat dimaknai, pasti ada sesuatu yang luar biasa di area perakaran, sehingga mampu memberi daya hidup bagi si pemalu itu.

Jika menilik dari sukunya, tumbuhan putri malu termasuk saudara jauh dari kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Tanaman tersebut memiliki pabrik pupuk berupa bintil-bintil akar. Dalam bintil-bintil akar tersebut bermiliar-miliar konsorsium koloni mikroba bersimbiosis mutualisme dengan akar putri malu.
MIKROBA DALAM RIZOSFER AKAR PUTRI MALU:
- Rhizobium bakteri gram negatif aerob dalam suku Rizhobiaceae yang bersimbiosis dengan inang tertentu seperti pada tumbuhan suku leguminosa dan kacang-kacangan.
- Bacillus sp adalah jenis bakteri yang “numpang hidup” pada rizosfer akar. Salah satu manfaat bakteri ini adalah kemampuannya untuk melarutkan fosfat dan kalium serta menghasilkan zpt pemacu pertumbuhan tanaman, juga menekan perkembangan mikroba patogen.
- Pseudomonas putida adalah salah satu strain Bakteri Pseudomonas sp. yang biasa menghuni rizosfer akar. Pseudomonas putida yang disolasi dari perakaran putri malu mampu menekan serangan penyakit layu bakteri akibat bakteri Ralstonia Solanacearum.
- Actinomycetes adalah bakteri yang dikenal memiliki kemampuan menghasilkan antibiotik terhadap beberapa jenis bakteri pathogen tular tanah. Bakteri ini banyak hidup sekitar perakaran tumbuhan berakar serabut, termasuk tumbuhan putri malu.
Sumber:
Bbpopt.tanamanpangan.pertanian.go.id (2020, 09 Juni). Banyak yang tidak tahu, inilah manfaat putri malu bagi petani. Diakses pada 27 Januari 2023.
Irfanti, D. Y., Marsuni, Y., & Liestiany, E. (2021). Uji Antagonis Bacillus sp. dan Pseudomonas berfluorescens dari Rhizosfer Bambu, Rumput Gajah dan Putri Malu dalam Menekan Bakteri Ralstonia solanacearum. JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA, 4(1), 292-298.
Nufus, N. H., Wangiyana, W., & Suliartini, N. W. S. (2022). Isolasi Dan Karakterisasi Mikrobia Bintil Akar Putri Malu (Mimosa Pudica) Indigenus Dari Lahan Kering Pringgabaya, Lombok Timur. Gontor AGROTECH Science Journal, 8(1), 18-27.
Yuliani, Y. (2017). Pemanfaatan Rptt (Rhizobakteri Pemacu Tumbuh Tanaman) Akar Putri Malu Dan Giberelin Untuk Peningkatan Pertumbuhan Tanaman Cabai (Capsicum Annum L.). AGROSCIENCE, 6(2), 49-54.