Dalam upaya memperkuat ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi hadir dalam acara bersama konsorsium lembaga KRKP (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan), Rikolto, CISU (Civil Society in Development) dan PbN (Preferred by Nature) pada Selasa (31/03/2026). Kegiatan yang berlangsung di Rumah Makan Kedai Duta-Qu, Karangtengah, Ngawi bertajuk Pertemuan Petani Tingkat Kabupaten ini merupakan tindak lanjut Program Sustainable Rice Platform (SRP) yang telah dilaksanakan di Kabupaten Ngawi.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi Supardi mengatakan bahwa Program Rice Silience (Beras Tangguh) dan Sustainable Rice Platform (SRP) sangat sejalan dan selaras dengan Program Pemerintah Kabupaten Ngawi yakni Program Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) dan Komitmen Bupati Ngawi dalam International Sustainable Rice Forum.  Tantangan Pertanian kedepan di Kabupaten Ngawi sangat menantang, dengan penurunan Luas Baku Sawah dari 50.715 Ha menjadi 49.622 Ha dengan tetap bisa meningkatkan produksi padi dan menjaga tingkat kesuburan lahan sehingga stabilitas swasembada pangan khususnya Padi tetap terjaga. 

Hadir dalam pertemuan tersebut para pemangku kepentingan antara lain dari pihak pemerintahan, organisasi non-pemerintah, petani,Poktan, Gapoktan, KWT, HKTI dan pelaku usaha penggilingan padi.

Ricesilience Project merupakan kegiatan dalam rangka peningkatan kapasitas budidaya beras berkelanjutan dengan merepakan prinsip sustainable rice  platform untuk membangun ekosistem beras tangguh mulai manajemen usaha tani, persiapan awal, penggunaan air, manajemen hara, PHT, panen dan pasca panen, kesehatan dan keselamatan petani, serta hak pekerja pertanian/buruh tani.

Hasil dari pelaksanaan Demplot Sekolah Lapang SRP di Desa Dempel Kecamatan Geneng Kaupaten Ngawi Musim Tanam 1 2025-2026, peningkatan pendapatan petani 10-20%, pengurangan penggunaan air 20%, dan hamper 50% pengurangan emisi metana dari sawah yang tergenang, hingga terbentuknya Multi Stakeholder Forum (MSF) sebagai wadah advokasi petani. (BH.m)