Hari Selasa, 15 November 2022 dilakukan kegiatan Penyuluhan dan Penanaman 1000 bibit Pepaya California di Desa Dampit bersama Mahasiswa KKN Desa Dampit UNIGIRI Bojonegoro. Kegiatan ini dihadiri oleh Perangkat Desa Dampit, Perangkat Kecamatan Bringin, PPL Bringin, dan Petani Desa Dampit. Kegiatan ini diawali oleh pembukaan bacaan Al-Fatihah dan sambutan oleh Kepala Desa Dampit, Perangkat Kecamatan Bringin, dan Koordinator BPP Bringin. Dilanjut pembacaan doa, lalu ditutup oleh penyampaian materi budidaya Pepaya California di lahan kering serta diskusi tanya jawab bersama dengan petani. Terakhir simbolis penanaman bibit Pepaya California bersama dengan Kepala Desa Dampit, Perangkat Kecamatan Bringin, dan Koordinator BPP Bringin dilanjut dengan foto bersama.
Kegiatan ini bertujuan untuk memanfaatkan pekarangan rumah warga Desa Dampit yang dilihat oleh para mahasiswa KKN sebagai potensi untuk tanaman hortikultura, termasuk Pepaya California yang bisa tumbuh di lahan kering, serta bisa berkembang biak dengan metode tumpeng sari. Harapan kegiatan ini, warga Desa Dampit dapat mencukupi kebutuhan pangan sekaligus kedepannya bisa dijadikan sebagai ladang usaha budidaya Pepaya California, selain tanaman jagung yang menjadi mayoritas di daerah Dampit.
(11/11/2022) Jum’at, Bupati Kabupaten Ngawi, H. Ony Anwar Harsono, S.T., M.H. mengunjungi Sistem Pertanian Integrated Farm di Desa Guyung. Bupati melakukan kunjungan dalam rangka Jumat berkah yang berlokasi di tiga desa kecamatan Gerih, antara lain Randusongo, Widodaren dan Guyung. Bupati Ngawi tak melewatkan kesempatan untuk melihat Sistem Pertanian Intregrated Farm yang ada di desa Guyung. Sistem pertanian tersebut adalah binaan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.
Pada acara tersebut selain Bupati Ngawi banyak pejabat hadir seperti Sekretaris Daerah Kabupaten Ngawi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Kepala Bidang yang ada di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi beserta jajarannya, serta Koordinator BPP Kecamatan Gerih bersama timnya dan Kepala Desa Guyung sebagai tuan Rumah.
Dalam sistem tersebut terdapat banyak komponen seperti, lahan pertanian, lumbung pangan, alat penggiling beras / Rice Milling Unit (RMU), Bed Dryer, kandang kambing, dan tempat pengolahan sampah. Nantinya komponen diatas diharapkan mampu membuat siklus yang menguntungkan, sebagai contoh, beras yang telah dipanen dari lahan akan dikeringkan di Bed Dryer, lalu digiling di RMU. Sisa dari proses di atas akan diberikan kepada kambing sebagai pakan, kemudian kotoran dari kandang akan dipisahkan untuk dibuat pupuk atau diolah terlebih dahulu di tempah pengolahan sampah. Terciptanya siklus tersebut akan membuat tidak adanya barang dari lahan atau kandang yang terbuang percuma.
Setelah melaksanakan sholat Jumat bersama warga setempat, Bupati Ngawi mengunjungi sistem pertanian yang ada di desa Guyung. Kunjungan dimulai dengan Bupati melihat alat penggilingan beras / RMU, dilanjutkan melihat Bed Dryer yang merupakan bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi. Bupati melanjutkan kunjungan dengan melihat kandang kambing yang berada di sebelah gedung lumbung. Kemudian diakhiri dengan menilik Tempat Pengolahan Sampah yang merupakan bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi. Acara pada hari itu diakhiri dengan makan bersama di kediaman Kepala Desa Guyung.
Jumat, 11 November 2022. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Bapak bupati dan wakil bupati yaitu jum”at Berkah” (Jum’at Bersama Kepala Daerah) Sambang Desa Nyambung Roso yang bertempat di 3 desa yaitu Desa Randusongo Desa Widodaren dan Desa Guyung Kecamatan Gerih. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Poktan/Gapoktan, masyarakat, Seluruh SKPD dan Seluruh Kepala Desa Sekecamatan Gerih.
Pada kesempatan tersebut bapak bupati Bapak Ony Anwar Harsono berdialog bersama petani poktan /gapoktan yang berkaitan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan (PRLB) serta melihat hasil pembuatan Pupuk organic dari poktan/poktan.
Ony Anwar mengatakan, beralih ke pertanian ramah lingkungan berkelanjutan tidak sekedar mampu mempebaiki kesuburan saja, namun akan menyehatkan tanah, sehingga akan menjamin kesehatan tanaman dan hasilnya.
Di samping itu, petani juga didorong agar beralih ke sistem pertanian yang ramah lingkungan. Adapun Pemkab Ngawi memiliki target luasan pertanian organik mencapai 2000 hektar hingga tahun 2023 ini. Yang dimana sekrang sudah mencapai 700 ha.
Mengenai pertanian ramah lingkungan Desa Widodaren sudah melaksanakan pertanian ramah lingkungan transsisi dengan jumlah 4,28 ha. Desa Randusongo sudah melaksanakan pertanian ramah lingkungan transsisi dengan jumlah 32,05 Ha Desa Guyung sudah melaksanakan pertanian ramah lingkungan transsisi dengan jumlah 15,75 ha.
Jum’at hari yang penuh keberkahan. Semoga hari ini dipenuhi dengan rahmat-Nya.
Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kabupaten Ngawi pada hari Kamis s/d Sabtu 27 – 29 Oktober 2022 mengadakan Pelatihan Budidaya dan Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Tembakau di BBPP Ketindan Malang, mengirimkan sebanyak 30 orang petani tembakau dari kelompok tani di Kecamatan Bringin, Kedunggalar, Karangjati, Kendal, Ngrambe, Sine dan Jogorogo. Materi disampaikan oleh Dadang dari Pusat Pelatihan Pertanian Dan Perdesaan Swadaya (P4S) ”ALAM LESTARI” Blitar . Pupuk Organik bokhasi adalah bahan organik yang difermentasi dengan menggunakan mikroorganisme Bakteri, Jamur dan MOL. Keistimewaan dan Keuntungan, menciptakan tanah yang lebih subur dengan cara memperbaiki populasi mikroba secara alami, memacu pertumbuhan tanaman secara pesat, yang berdampak pada peningkatan hasil panen, memaksimalkan efektifitas pupuk dengan cara membuat nutrisi menjadi lebih tersedia bagi tanaman, membantu proses dekomposisi jerami dan bahan organik lainnya serta melepaskan nutrisi tambahan ke dalam tanah, bakteri yang mendiami tanah akan terus bekerja untuk memberikan manfaat jangka panjang.
Hama dan penyakit merupakan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) yang menyebabkan kerusakan dan kerugian (pertumbuhan tanaman terganggu, hasil produksi menurun, hingga gagal panen). Hari kedua kunjungan Ke P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Dan Perdesaan Swadaya) Tani Makmur Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan memepelajari teknik pembuatan pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan hasil ekstraksi bagian tertentu dari tumbuhan baik dari daun, buah, biji atau akar. Biasanya bagian tumbuhan tersebut mengandung senyawa atau metabolit sekunder dan memiliki sifat racun terhadap hama dan penyakit tertentu.
Hari ketiga kunjungan Di Desa Tangkil Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Ketua APTI Kabupaten Blitar Sunyoto mengajarkan budidaya tembakau Organik, melihat langsung pengolahan panen dan pemasaran. Tembakau organik baru di kembangkan selama 2 ± 4 tahun, Varietas yang dikembangkan diantaranya varietas Kedululang dan Kenongo. Harmaji (pengepul) bersedia menampung semua jenis tembakau yang dihasilkan oleh petani. sedangkan APTI hanya sebagai mediator antara petani dan pengepul, tentang harga kesepakatan petani dan pengepul. Untuk harga bervariasi sesuai grade merajang, semisal dengan menggunakan alat mencampur atau tidak memakai alat. Pengeringan tidak memakai oven tapi dengan sinar matahari. Daun yang sudah kering hasil oven akan berbau sangit yang menyebabkan daun tembakau nanti tidak laku.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur melangsungkan ‘Gelar Pasar Murah Berkualitas’ di halaman perkantoran Kecamatan Ngawi di Gang Sumbawa no 17, Ngelarangan, Karangasri, Ngawi. Pada hari Jumat 4 November 2022. Program ini selaras dengan semangat Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok dengan koordinasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi melalui Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan.
Bapak Camat kecamatan Ngawi, membuka Pasar Pangan Murah Berkualitas, Pasar Pangan Murah Berkualitas ini terbuka bagi masyarakat yang ingin membeli kebutuhan bahan pokoknya, di Gelar Pasar Murah Berkualitas itu, lanjutnya, terdapat aneka sembako seperti beras, minyak goreng, gula pasir, cabai merah besar, canai rawit merah, bawang putih, telur ayam, daging ayam, daging sapi dan lainnya.
Kemudian juga ada makanan olahan seperti frozen food, kue kering, makanan ringan, minuman herbal, krimer tinggi serat, aneka sambal, saus dan sarden, hingga makanan dan minuman siap saji lainnya. Dinas Ketahan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi berharap masyarakat bisa datang membeli langsung produk yang dibutuhkan, karena harga juga murah dibawah harga pasar. “Datang dan membeli produk yang dibutuhkan,”.
TTIC (TOKO TANI INDONESIA CENTER) Ngawi, juga membuka lapak diacara ini. TTIC menawarkan Beras Segar hasil Gapoktan di Kabupaten Ngawi dengan harga khusus Rp 8500 saja. Kemudian TTIC juga menawarkan telur omega dengan hraga Rp 23500.
Susut akibat perontokan menggunakan Power Thresher Mobile
Susut yang dihitung adalah sisa-sisa gabah yang tercecer di sekitar alat baik di atas terpal maupun karung yang sudah dipersiapkan. Penghitungan susut dilakukan dengan beberapa komponen sebelum dilakukan penimbangan gabah yang tercecer.
Susut panen dengan Combine Harvester
Metode ini dilakukan dengan menjalankan alat seperti halnya panen biasa. Dilakukan peletakkan 9 papan yang disebar sepanjang lintasan CHB untuk menampung gabah yang tercecer di bawah lintasan alat, dan pada bagian belakang alat dipasang layar atau terpal untuk menampung kotoran jerami yang keluar dari alat.
Berdasarkan hasil penghitungan akhir, didapatkan bahwa panen menggunakan Combine Harvester memiliki nilai susut yang paling rendah (0,2%), hal tersebut membuktikan bahwa hadirnya teknologi Combine Harvester memiliki manfaat yang cukup besar bagi petani sehingga petani tidak kehilangan hasil panen yang besar. Metode panen menggunakan Power Thresher memiliki nilai susut paling tinggi (3,17%), hal tersebut disebabkan kondisi padi yang basar sehingga hasil yang keluar dari alat terlempar lebih banyak daripada saat kondisi padi kering. Sedangkan metode manual memiliki nilai susut yang tergolong sedang (2,35%), karena kondisi lahan yang basah sehingga padi yang dipanen dapat langsung dimasukkan ke dalam karung.
“Ketersediaan sarana dan tingkat SDM juga mempengaruhi hasil panen suatu komoditas”, jelas perwakilan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur. Susut hasil dapat ditekan dengan penetapan waktu panen dan waktu perontokkan, serta dipengaruhi dengan penggunaan alat yang tepat pada saat panen.
Susut panen secara manual dengan menggunakan sabit bergerigi
Penghitungan susut panen secara manual dilakukan dengan metode ubinan, kemudian peletakkan papan 9, dan panen dengan memotong batang padi menggunakan sabit.
Susut akibat perontokan menggunakan Power Thresher Mobile
Susut yang dihitung adalah sisa-sisa gabah yang tercecer di sekitar alat baik di atas terpal maupun karung yang sudah dipersiapkan. Penghitungan susut dilakukan dengan beberapa komponen sebelum dilakukan penimbangan gabah yang tercecer.
Susut panen dengan Combine Harvester
Metode ini dilakukan dengan menjalankan alat seperti halnya panen biasa. Dilakukan peletakkan 9 papan yang disebar sepanjang lintasan CHB untuk menampung gabah yang tercecer di bawah lintasan alat, dan pada bagian belakang alat dipasang layar atau terpal untuk menampung kotoran jerami yang keluar dari alat.
Berdasarkan hasil penghitungan akhir, didapatkan bahwa panen menggunakan Combine Harvester memiliki nilai susut yang paling rendah (0,2%), hal tersebut membuktikan bahwa hadirnya teknologi Combine Harvester memiliki manfaat yang cukup besar bagi petani sehingga petani tidak kehilangan hasil panen yang besar. Metode panen menggunakan Power Thresher memiliki nilai susut paling tinggi (3,17%), hal tersebut disebabkan kondisi padi yang basar sehingga hasil yang keluar dari alat terlempar lebih banyak daripada saat kondisi padi kering. Sedangkan metode manual memiliki nilai susut yang tergolong sedang (2,35%), karena kondisi lahan yang basah sehingga padi yang dipanen dapat langsung dimasukkan ke dalam karung.
“Ketersediaan sarana dan tingkat SDM juga mempengaruhi hasil panen suatu komoditas”, jelas perwakilan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur. Susut hasil dapat ditekan dengan penetapan waktu panen dan waktu perontokkan, serta dipengaruhi dengan penggunaan alat yang tepat pada saat panen.
Salah satu kegiatan yang dilaksanakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur untuk mengetahui nilai susut hasil panen komoditas padi yaitu Pengukuran Susut Hasil Komoditi Tanaman Pangan yang dilaksanakan di Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi (02/11/2022). Kegiatan juga dilaksanakan bersama BPP Kecamatan Padas dan Petugas Data Tanaman Pangan.
Penghitungan susut hasil ini hanya dapat dilaksanakan pada saat memasuki masa panen, yang pelaksanaannya dilakukan dengan beberapa metode antara lain:
Susut panen secara manual dengan menggunakan sabit bergerigi
Penghitungan susut panen secara manual dilakukan dengan metode ubinan, kemudian peletakkan papan 9, dan panen dengan memotong batang padi menggunakan sabit.
Susut akibat perontokan menggunakan Power Thresher Mobile
Susut yang dihitung adalah sisa-sisa gabah yang tercecer di sekitar alat baik di atas terpal maupun karung yang sudah dipersiapkan. Penghitungan susut dilakukan dengan beberapa komponen sebelum dilakukan penimbangan gabah yang tercecer.
Susut panen dengan Combine Harvester
Metode ini dilakukan dengan menjalankan alat seperti halnya panen biasa. Dilakukan peletakkan 9 papan yang disebar sepanjang lintasan CHB untuk menampung gabah yang tercecer di bawah lintasan alat, dan pada bagian belakang alat dipasang layar atau terpal untuk menampung kotoran jerami yang keluar dari alat.
Berdasarkan hasil penghitungan akhir, didapatkan bahwa panen menggunakan Combine Harvester memiliki nilai susut yang paling rendah (0,2%), hal tersebut membuktikan bahwa hadirnya teknologi Combine Harvester memiliki manfaat yang cukup besar bagi petani sehingga petani tidak kehilangan hasil panen yang besar. Metode panen menggunakan Power Thresher memiliki nilai susut paling tinggi (3,17%), hal tersebut disebabkan kondisi padi yang basar sehingga hasil yang keluar dari alat terlempar lebih banyak daripada saat kondisi padi kering. Sedangkan metode manual memiliki nilai susut yang tergolong sedang (2,35%), karena kondisi lahan yang basah sehingga padi yang dipanen dapat langsung dimasukkan ke dalam karung.
“Ketersediaan sarana dan tingkat SDM juga mempengaruhi hasil panen suatu komoditas”, jelas perwakilan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur. Susut hasil dapat ditekan dengan penetapan waktu panen dan waktu perontokkan, serta dipengaruhi dengan penggunaan alat yang tepat pada saat panen.