Konsep dalam mengembangkan sistem pertanian terpadu dengan mengintegrasikan ternak-tanaman adalah memanfaatkan potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, produksi ternak yang menguntungkan, memanfaatkan limbah sisa pertanian menjadi pupuk, dan memanfaatkan sisa limbah pertanian sebagai pakan alternatif. Pertanian yang menerapkan konsep integrasi tanaman-ternak dapat meningkakan kualitas tanah, meningkatkan hasil yang berkualitas, dan memperbaiki efisiensi penggunaan lahan. Selain itu, menurut Kathleen (2011) bahwa manfaat yang diperoleh dari sistem tanaman terpadu dalam beberapa aspek seperti: a) aspek ekonomi yaitu kualitas hasil yang meningkat, penurunan biaya, dan mampu menciptakan diversifikasi produk; b) aspek agronomi yaitu peningkatan kualitas dan mutu tanah untu berproduksi; c) aspek sosial yaitu pemerataan distribusi pendapatan di pelaku utama dan pelaku usaha serta masyarakat; dan c) aspek ekologi yaitu pengendalian serangan hama penyakit tanaman dan penurunan penggunaan pestisida. Keuntungan lain yang didapatkan darp pengembangan pertanian terpadu menurut Tipraqsa et al. (2007) yaitu mampu menciptakan lapangan kerja baru di wilayah pedesaan sehingga urbanisasi terjadi penurunan.
Sistem pertanian terpadu dengan penerapan integrasi tanaman-ternak akan berfokus pada pertanian organik sebagai masukan dalam pertanian intensif. Berbagai macam kritik yang kurang baik yang disinyalir muncul stigma bahwa produktifitas pertanian organik lebih rendah dibandingkan pertanian intensif yang selama ini dilakukan. Namun, secara pendekatan ekologis bahwa pertanian organik secara jangka panjang mampu dijadikan akses kepentingan konservasi dengan tujuan produktifitas yang tinggi dengan tetap menjaga pelestarian lingkungan hidup. Wawasan ekologis yang terbentuk dalam stigma masyarakat lokal akan membentuk tindakan pertanian yang menelola sumber daya potensial secara bijak. Secara ringkasnya, pertanian berwawasan ekologis mampu dijadikan sebagai pendekatan yang menyatukan pembangunan pertanian dengan konservasi keanekaragaman hayati sehingga pertanian terpadu terjadi keberlanjutan.
Salah satu tujuan integrasi usahatani tanaman dengan peternakan yang dirasa cocok dilakukan di Kabupaten Ngawi khususnya Kecamatan Padas adalah dengan mengintegrasikan tanaman padi dengan ternak sapi, meningat potensi kedua usahatani tersebut sangat potensial. Sistem integrasi ternak dan tanaman pangan dapat menjadi andalan dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman pangan, ternak, selain melestarikan kesuburan tanah dengan adanya pupuk organik. Karena itu, sistem ini berpotensi meningkatkan pendapatan petani-peternak. Salah satu, produk samping dari peternakan yang diusahakan adalah urine sapi. Urine sapi merupakan limbah peternakan yang selama ini dianggap remeh temeh, namun pada kenyataannya urine sapi dapat diproses menjadi pupuk hayati cair yang bermanfaat terhadap ekologi lingkungan pertanian. Keberlanjutan pertanian organik atau pertanian ramah lingkungan akan didorong semaksimal mungkin dengan harapan bahwa terciptanya kesejahteraan masyarakat tani, ketahanan pangan di setiap keluarga tani tercapai, dan sumber daya manusia serta alam terbentuk dengan baik.
Pendekatan subsistem On Farm menjadi alah satu strategi dalam menciptakan pertanian yang terpadu (Integrated Farming System) dimana ketersediaan agroinput menjadi pokok bahasan utama. Ketersediaan agroinput sangatlah penting disamping penerapan alsintan yang memadai namun juga pengelolaan sarana prasarana ketersediaan dalam pencapaian kesuburan tanah juga menjadi prioritas dalam pertanian terpadu. Pakan yang tercukupi terhadap pertenakan menjadi kunci dalam menghasilkan limbah peternakan (urine) yang berkualitas. Inovasi yang dihasilkan juga mampu diintegrasikan dalam mencapai keberhasilan pertanian yang terpadu secara maksimal dimana potensi produksi jerami padi rata-rata 4 ton/ha, melalui fermentasi atau amoniasi, maka dihasilkan pakan yang bermutu. Tentu, ketercukupan pakan ternak yang berkualitas akan menghasilkan produk sampingan uyang berkualitas pula. Selain itu, Ferinsa Plus merupakan inovasi yang mampu menghasilkan pupuk hayati cair yang dengan memanfaatkan urine sapi dalam proses fermentasi sehingga siap digunakan.
Pemberdayaan masyarakat penting dilakukan dalam subsistem On Farm untuk menunjang pertanian terpadu. Pengadaan pakan fermentasi hingga ferinsa plus menjadi peluang sebagai agroindustri hulu (upstream). Melalui usaha dalam pengadaan agroinput tersebut juga menjadi sarana transfer ilmu teknologi pertanian yang bermanfaat bagi petani dan peternak guna meningkatkan kapasitas usahataninya. Pemberdayaan masyarakat akan menjadi kebiasaan yang saling menguntungkan dengan dibarengi dengan inovasi setiap subsistem lainnya baik panen, pasca panen, pengolahan, hingga pemasaran dengan harapan peningkatan kesejahteraan masyarakat tercipta.
Sumber:
Kathleen, H. 2011. Integrated crop/livestock agriculture in the United States: A Review. J. Sustainable Agric. 35:376-393
Hasan, S., Pomalingo, N., dan Bahri, S. 2018. Pendekatan dan Strategi Pengembangan Sistem Pertanian Terintegrasi Ternak-Tanaman Menuju Ketahanan Pangan Nasional. Prosiding Seminar Nasional Integrated Farming System, Gorontalo 25-26 November 2018 “Pembangunan Pertanian-Peternakan-Perikanan Berkelanjutan Menuju Ketahanan Pangan Nasional”.
Tipraqsa, P., E.T. Craswell, A.D. Noble, D. Schmidt-Vogt. 2007. Resource integration for multiple benefits: Multifunctionality of integrated farming systems in Northeast Thailand. Agric. Sys. 94:694-703.